Monday, February 22, 2016

kemungkinan-kemungkinan kecil di sore hari

Mungkin semua lelah yang dirasakan tidak akan pernah cukup. Atau luka yang terus membiru tak akan pernah kunjung hilang. Mungkin pula kesedihan ini tak akan pernah bosan menghujam tubuh yang sudah tak mampu lagi. Mungkin memang sudah suratan takdir. Atau mungkin Tuhan memang suka melihat umatnya menderita, meraung-raung untuk sesuatu yang mereka berdua sama-sama tahu adalah mustahil untuk diadakan.

Mungkin hari ini aku memang diharuskan untuk sakit. Untuk sakit sesakit-sakitnya tetapi tetap dipaksakan untuk berfungsi. Tak ada yang mau peduli karena waktu tidak akan berhenti untuk satu orang yang menderita saja. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Entah dengan luka yang sibuk mereka obati atau pahit yang buru-buru mereka tutupi agar tak tercium oleh orang lain. Semua disibukkan oleh satu penyebab yang sama, tetapi tak ada yang mau berbagi. Karena kita sama-sama mengerti; Luka kita bukanlah konsumsi bersama.

Mungkin memang begini seharusnya hidup. Untuk hidup merasakan sakit dan sesekali diselingi oleh tawa yang tulus. Hanya sesekali karena kehidupan adalah bukti dari dedikasi tinggi kita kepada kesedihan yang abadi. Tak ada yang bisa melawan kecuali kematian. Jika sudah siap dijemput oleh ketiadaan maka boleh pergi dari permainan sampah ini. Benar, hidup seperti permainan tua yang terkadang aku ingin curang saja agar bisa dikeluarkan dari permainan sesegera mungkin. Karena tamatku terasa masih begitu lama dan aku sudah mulai kelelahan.

Maka mungkin hidupku memang harus dijalankan seperti ini. Dengan rasa berat yang menggantung di dada. Yang menyesakkan seperti ada sesuatu yang menghimpit organ pernapasan. Yang membuat segalanya sangat menyesakkan. Yang membuatku merasa penuh dan kosong diwaktu yang bersamaan. Yang membuat hidup menjadi neraka tersendiri untuk jiwa yang sudah tak tahan lagi. Yang membuatku ingin tamat saja, sekarang, saat ini juga.

Mungkin.
Mungkin.
Tetapi hanya mungkin

Wednesday, February 10, 2016

layaknya atheis dan filsuf

Cinta adalah sebuah gagasan unik yang sayangnya tak lebih dari sekedar dongeng sebelum tidur. Atau sebuah keberuntungan yang dengan sengaja Tuhan sebarkan saat matahari menampakan cahayanya. Cinta tak lebih dari sekedar mimpimu yang entah karena sebab apa, bisa bertemu dengan kenyataan yang ada. Sebuah ekspektasi liar yang kamu izinkan untuk bersarang di pikiranmu. Sebuah halusinasi yang lebih indah dan memabukkan dari obat terlarang manapun. Yang membuatmu terlalu bahagia akibat dopamine yang telah memenuhi seluruh seluk beluk otakmu. Seperti babi yang dihalalkan bagi para Muslim saat waktu terdesak; Cinta adalah suatu imaji haram yang telah kamu adakan karena tekanan yang tak terbantahkan. Tak lebih, dan tak kurang. Hanya lewat, namun tak pernah benar benar ada. Setidaknya, itulah yang aku percaya.

Selayaknya atheis, aku akan selalu menanyakan kebenaran akan eksistensi dari sesuatu yang disebut Cinta itu. Katakanlah aku sembrono, berlebihan, dan kurang bergaul sehingga memiliki pemikiran semacam ini. Mungkin memang itu yang telah terjadi. Tetapi biarkanlah aku menjadi selayaknya seorang filsuf yang tak akan pernah berhenti menanyakan segala sesuatu yang ada di Bimasakti ini. Biarkanlah aku bertanya, tentang sebuah distraksi yang selalu orang bicarakan, yang bisa membuat mereka lupa daratan, dapat melihat ikan terbang dan burung berenang. Biarkanlah aku terus menanyakan kebenaran akan eksistensi dari sesuatu yang disebut Cinta itu. Layaknya mereka, yang seperti tak pernah kehilangan pertanyaan.